Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN KARAKTER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN KARAKTER. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2013

SEPAK BOLA BERKARAKTER

Setelah kekalahan beruntun dari Yordania (uji coba 1-0), Iran (prapiala dunia, 3-0), bahkan kekalahan dari timnas Bahrain di kandang sendiri (prapiala dunia 2-0), orang kembali teringat pada sosok pelatih bertangan dingin, dengan penampilan kaku tanpa umbaran emosi, Alfred Riedl. Harus diakui bahwa era Riedl adalah era kebangkitan sepak bola Indonesia. Dia telah memberi karakter pada timnas Indonesia. Pantas kalau banyak orang berteriak menginginkan kembalinya Riedl menata tim yang sudah mulai apik dulu. Sayang Riedl muncul pada zaman yang salah, saat berlangsung perseteruan di tubuh PSSI. Dia lalu menjadi korban persetuan justru karena berpegang pada prinsipnya sendiri. Itulah sesungguhnya tipe manusia berkarakter. Sepertinya para petinggi di negeri ini gerah dengan orang-orang yang berkarakter.
Sebagai pelatih yang berkarakter Riedl telah membangun sepak bola berkarakter. Sepak bola Indonesia harus menjadi sepak bola yang berkarakter. Bisa kita amati bahwa tim-tim sepak bola yang berjaya di dunia adalah tim-tim berkarakter yang dibangun oleh pelatih-pelatih ternama seperti Rinus Michels (Belanda), Helmut Schön (Jerman), Enzo Bearzot (Italia), Sir Bobby Robson (Inggris) Cesar Luis Menotti (Argentina). Tim panser terkenal dengan keuletan mentalnya. Tim kincir angin dengan total footballnya. Brazil dengan gaya zamba, Inggris dengan kick and rush, Italia dengan cattenacio, Argentina dengan tanggo-nya, Spanyol dengan kelincahan mengalirkan bola dari kaki ke kaki, tim ginseng dengan staminanya yang prima. Semua karakter sepak bola itu sangat menempel pada karakter bangsanya.
Dalam konteks Indonesia tampaknya Riedl pun mulai membangun sepak bola berkarakter. Dan pada prinsipnya karakter dibangun di atas nilai. Tanpa nilai karakter mustahil dibangun, karena berdasarkan nilai itulah orang membangun prinsip dan pada gilirannya membangun pribadi yang terpadu dan integral.
Disiplin
Nilai menonjol yang dibangun Riedl untuk tim khas Indonesia adalah disiplin. Dia tahu kelemahan tim Indonesia dengan skill individu yang belum setaraf tim-tim sepak bola Asia Tenggara apalagi Asia. Maka yang dia bangun adalah kedisiplinan, untuk menciptakan ketangguhan sebagai tim. Itu bisa terlihat ketika timnas kita berlaga dalam piala AFF. Karenanya, walaupun kemampuan individual timnas kita pas-pasan, dia bisa menghasilkan sinergi dan meraih kekuatan yang lebih besar dari jumlah kekuatan masing-masing individu. Karena alasan disiplin pula Riedl tak segan-segan menolak Boaz, walaupun kemampuan individual striker produktif itu tidak perlu diragukan untuk masuk dalam timnas.
Dia sangat mengenal kekuatan dan kelemahan timnya, sehingga dia tahu dari mana tim harus dibangun. Dan hasilnya terlihat, timnas sangat menggairahkan. Tampak anak-anak asuh Riedl itu begitu disiplin mengejar dan merebut bola, menempel lawan, dan tidak memberikan ruang gerak pada lawan untuk mengembangkan kemampuannya. Hasilnya, mereka sukses menekuk Malaysia dengan skor telak 5-1, walaupun di final tim Garuda kalah agregat. Mereka berhasil menaklukkan Filipina yang kemampuan individual pemainnya rata-rata di atas tim Garuda. Bahkan tim tangguh sekelas Thailand pun berhasil ditekuk, dan ironisnya berakibat pada lolosnya Malaysia yang kemudian melenggang sampai ke final dan malah menjadi juara AFF.
Sayang pembangunan karakter itu sepertinya melempem bersama dengan penyingkiran Riedl dari timnas. Penyingkiran itu pun terkesan tidak disiplin dan tidak berkarakter, bahkan cenderung memalukan. Tak kalah memalukan sebenarnya dibanding petasan dan kembang apinya para supporter yang frustrasi melihat timnas garuda kehilangan gregetnya. Tetapi hanya kembang apilah yang membuat presiden marah, dan bukan tindakan tidak adil yang dilakukan PSSI terhadap Riedl. Alih-alih diberi bonus karena telah membangkitkan sepak bola Indonesia, Riedl malah sedang dinegosiasi untuk negoisasi kontrak. Ironis memang. Inilah cara berpikir tidak disiplin yang bukan tidak mustahil (tetapi mudah-mudah mustahil) menular pada karakter tim sepak bola nasional kita.
Miniatur Indonesia
Saya membayangkan Riedl membangun sepak bola Indonesia menjadi semacam miniatur bangsa Indonesia. Melalui kedisiplinan dalam sepak bola, bangsa ini bisa belajar disiplin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Disiplin tentu saja bukan nilai fragmentaris yang terlepas dari nilai-nilai lainnya. Dalam kedisiplinan mesti ada nilai kejujuran, otentisitas, keadilan (baik fairness maupun justice), ketekunan, saling menghargai.  Salah urus negeri ini telah ikut-ikutan merasuki dan merusaki sepak bola. Maka kalau sepak bola dibangun sebagai dunia sendiri, dia akan menjadi contoh untuk pembangunan bangsa ini. Posisi Riedl dalam hal ini sangat jelas. Sepak bola harus dilepaskan dari politik. Gurita korupsi dan keserakahan dalam dunia politik, hukum, ekonomi, tidak boleh mencemarkan kesucian sepak bola.
Sepak bola itu berkaitan dengan otentisitas. Dalam sepak bola orang harus menunjukkan keaslian dan kesejatiannya. Di sana tidak ada kemunafikan, kepura-puraan. Dalam sepak bola orang tidak bisa sok, berlagak, alias berkamuflase. Pura-pura jago, pura-pura cedera, pura-pura dilanggar, semuanya tabu dalam dunia sepak bola. Dalam sepak bola tidak ada  nyontek, plagiarisme, pembajakan kemampuan orang lain, dan tidak boleh ada rekayasa.
Otentisitas sepak bola itu sama dengan otentisitas dalam pertobatan, dan dalam keyakinan. Orang tidak bisa dipaksa untuk bertobat. Tobat harus datang dari hati. Orang yang bertobat karena diancam dan disiksa, sebenarnya tidak bertobat melainkan bertakut. Tidak bedanya dengan kucing yang tidak berani lagi mengambil ikan dari dapur bukan karena tobat melainkan karena takut dipukul atau ditendang tuannya. Begitu juga orang yang berpura-pura yakin atau dipaksa/disuruh yakin, sebenarnya kan berarti tidak yakin. Dia hanya ikut-ikutan, tidak punya prinsip, dan gampang diperalat, dimanipulasi, dan diprovokasi.
Pantas kalau sepak bola itu dianalogikan dengan agama, bahkan lebih dari agama. Dalam agama Anda bisa berpura-pura, atau sok alim, sok saleh (walaupun hanya di mata manusia, bukan di mata Tuhan), tetapi dalam sepak bola Anda tidak bisa berlagak sok jago. Karena otentisitas Anda akan diuji tidak hanya oleh lawan, melainkan oleh pelatih dan ribuan penonton di pinggir lapangan yang menyaksikan otentisitas dan kesejatian Anda.
Maka membangun sepak bola berkarakter harus menjadi bagian dari membangun bangsa dan manusia-manusia yang berkarakter. Dan ketika sepak bola sedang menjadi primadona bagi, dan meraup fokus perhatian dari, sebagian terbesar masyarakat Indonesia saat ini, tampak sekali betapa besarnya peran sepak bola dalam berbuat sesuatu bagi bangsa dan negara ini. Benahilah sepak bola kita, ciptakan sepak bola yang berkarakter, maka sepak bola akan melakukan sesuatu yang besar bagi bangsa ini.
Sumber : http://molansio.wordpress.com/2011/09/08/sepak-bola-berkarakter/

Belajar Pendidikan Karakter Dari Sepak Bola

Pendidikan karakter itu bukanlah sesuatu yang muluk-muluk atau sulit. Pendidikan karakter sebenarnya sudah ada dimana-mana. Sudah ada dikeluarga, dilingkungan sosial, sekolah, tempat hiburan dan lainnya. Tapi kali ini kita akan belajar sesuatu inti yang penting tentang pendidikan karakter dari sepak bola.
Ya, kenapa sepak bola karena kondisi atau contoh ini akan sangat mudah di analogikan (disamakan) dengan kondisi dan bagaimana mendidik karakter di dalam sekolah dan rumah. Pada dasarnya pendidikan karakter adalah memberikan aturan main dalam kehidupan dan lingkungan sosial disertai dengan konsekuensi yang berlaku didalamnya. Lalu hubungan dengan sepak bola? Mudah, dalam sepak bola sudah berlaku aturan yang sangat baku dan jelas. Ada aturan main dan konsekuensi. Jika melanggar ada kartu kuning (peringatan), kartu merah (keluar dari permainan), free kick, penalty, corner kick, bahkan denda uang bagi pemain dan team. Bahkan yang lebih “sadis” lagi jika team tersebut harus turun kasta ke liga yang lebih rendah lagi.
Sebagai pecinta sepak bola, saya sangat senang dan berulang kali menggunakan contoh ini kepada guru dan orang tua yang ingin tahu tentang bagaimana mendidik karakter anak dengan menggunakan contoh ini. Seorang anak perlu mengembangkan pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja, mempelajari “aturan main” segala aspek yang ada di dunia ini dan “hidup” didunia ini. Nah, masalahnya anak pada saat lahir dia tidak memiliki “konsep sosial” didalam kepalanya, oleh karena itu anak perlu tahu bagaimana aturan – aturan yang ada didalam dunia ini. Inilah Pendidikan Karakter, mudah kan?
Supaya tidak kena kartu kuning, jangan melanggar. Jika melanggar lagi ya kartu merah. Sehingga banyak dari pemain sepak bola jika kesal terhadap team lawan selalu berusaha menjaga sikap dengan berusaha menghormati wasit dan tetap mengeluarkan uneg-uneg nya. Ya inilah dunia manusia, terkadang ada yang sesuai dan tidak tetapi diperlukan aturan untuk membuat semuanya teratur.
Dalam permainan sepak bola pemain inti dalam sebuah pertandingan adalah wasit. Banyangkan jika bermain tidak ada wasit maka kemungkinan besar bukan pertandingan sepak bola lagi yang kita lihat. Tetapi UFC (Ultimate Fighting Championship) di lapangan sepak bola, alias tarung bebas dilapangan sepak bola. Sama dalam dunia pendidikan di sekolah perlau ada figure yang berperan seperti wasit dalam pertandingan sepak bola yang menjadi “penjaga” aturan di sekolah. Dan seringkali hal inilah yang menjadi kelemahan, wasit di sekolahnya tidak berfungsi dengan baik. Sama halnya dirumah, orang tua kurang dapat menjadi wasit dengan baik. Sehingga pendidikan karakter kurang dapat berjalan dengan maksimal.
Perlu kita ketahui semua, pendidikan karakter bukan semata-mata memberikan pengetahuan semata tetapi menetapkan aturan dan konsekuensi dilingkungan sekolah dan dirumah. Dalam peraturan sekolah misal: anak tidak bawa buku pelajaran maka konsekuensinya mendapatkan tugas tambahan. Ini harus jelas dan konsisten, serta dikomunikasikan kepada semua pihak termasuk orang tua.
Jika kita melanggar aturan lalu lintas maka jelas kita kena tilang, dan kita bisa pilih mau slip merah atau biru. Merah bayar di tempat, jika biru kita bayar di tempat yang ditunjuk untuk mengurusi tilang (Bank BRI). Dan ini konsisten dan semua masyarakat Indonesia yang menggunakan kendaran bermotor sudah tahu. Inilah dasar dari pendidikan karakter. Ada aturan yang jelas dan konsekuensi.
Berikutnya, memang sebaiknya seorang yang bertanggung jawab dibidang pendidikan karakter adalah seorang yang memiliki minat, dalam dunia “kemanusian” tidak mesti psikolog. Kenapa sebab ini berkaitan dengan menata aturan dan konsekuensi bagi anak didik. Tentunya aturan ini harus ditata berdasarkan jenjang dan usia dan skala pelanggaran. Misal: hukuman anak yang mencuri atau merusak dengan sengaja property sekolah tentunya akan berbeda dengan anak yang lupa membawa alat tulis, atau tidak membawa catatan.
Nah, yang terpenting bagi kita semua bahwa pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang rumit. Ini sangat mudah dan ada banyak sekali contohnya disekitar kita, tinggal kita mau apa tidak. Perlu upaya untuk menerapkan ini, kita perlu mengetahui dan belajar tentang seluk beluk manusia dan bagaimana mengatasinya. Sebab manusia saat dilahirkan tidak disertai manual book-nya, lain seperti Black Berry yang kita beli dan sudah disertakan manual book-nya dan ada petunjuk bagaimana menggunakannya.
Sumber : http://ridopradana.blogspot.com/2012/11/sepakbola-berkarakter.html

Kamis, 28 Maret 2013

Menanamkan Pendidikan Karakter Bangsa Adalah Suatu Prioritas

Mendidik karakter adalah bahasan unik, mengapa unik? Karena bahasan ini bisa “lari” kemana-mana bila kita membahas tentang manusia. Dan masalah tentang manusia adalah pekerjaan yang tidak ada habisnya, dari manusia lahir hingga meninggal banyak kejadian ajaib serta memalukan terjadi dalam kehidupannya.
Manusia adalah faktor penting dalam menciptakan kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik dan sejahtera itu dapat dibentuk dan diciptakan. Pertanyaannya bagaimana membentuknya?
Bentuklah dari kebiasaan. Sebagai contoh, di Hong Kong kepadatan lalu lintas tidak seruwet di Jakarta, bahkan cenderung sepi dan lenggang. Dengan penduduk sekitar 8,8 juta lalu lintas kendaraan di Hong Kong termasuk lenggang, bahkan hari-hari sibuk juga lenggang. Apa orang hongkong tidak memiliki kendaraan? Tidak, ternyata di Hong Kong ada 2 kehidupan, kehidupan di dunia atas dan dunia bawah. Dunia atas adalah dunia yang saya maksudkan lenggang, tetapi dunia bawah adalah jalur subway atau kereta bawah tanah.
Jelas lebih padat aktifitas transportasi di dunia bawah. Hampir semua penduduk Hong Kong menggunakan fasilitas ini. Walaupun padat, tetapi meraka sangat teratur. Keluar melalui pintu samping kanan dan penumpang masuk melalui pintu samping kiri, rapi dan teratur. Bagaimana ini bisa terjadi?
Ternyata ini adalah proses dari pembiasaan, hal ini sudah di biasakan sejak anak di sekolah dasar, sekolah mengajarkan keteraturan-keteraturan ini sejak usia dini. Mereka dibiasakan untuk melakukan ini, sehingga kelak mereka terbiasa. Para pembaca sekalian, anda tahu berapa waktu yang di butuhkan untuk membentuk karakter seperti ini? Apakah 6 bulan? 1 tahun? Ini butuh proses yang cukup lama dan perlu dibudayakan.
Indonesia memiliki nenek moyang yang ramah tamah dan sangat santun dalam berelasi dengan sesama dan kehidupan kesehariannya. Tetapi mengapa hingga ke belakang (saat ini), nilai itu pudar semua? Australia, suku asli Aborigin, mereka jauh tidak beradap dan jauh lebih brutal dari nenek moyang kita, tetapi kini mereka masuk dalam kategori negara yang sangat teratur dan tingkat kehidupan yang cenderung makmur. Ungkap seorang kawan yang bercerita kepada saya. Teringat juga saya ketika rekan saya lebih tepatnya dosen pembimbing skripsi saya saat pulang dari Australia dan kita bertemu di tahun 2012. Dia bercerita, saat terjadi banjir yang melumpuhkan Brisbane, dosen saya termasuk orang yang beruntung karena dia tinggal di flat yang agak tinggi dan tidak perlu mengungsi. “Orang disana tidak egois, rumah yang masih ada penghuninya saling di datangi, entah mereka kenal apa tidak. Mereka ketok setiap pintu mereka tawarkan bahan makan dan selimut, bertanya apa yang kita butuhkan, mereka saling berbagi dengan mudahnya dan ikhlas”, “apakah itu petugas khusus penanganan bencana yang datang kerumah anda?” tanya saya, “bukan, itu adalah tetangga–tetangga saya yang senasib dengan saya, dan mereka tidak tinggal di pengungsian” merinding saya dengar cerita tersebut. Bagaimana mereka dapat hidup berdampingan seperti itu dan memperlakukan orang lain yang bukan asli Australia seperti itu, tanpa pamrih.
Seandainya kita bisa berlaku seperti negara tetangga kita, indahnya hidup dan kebersamaan ini. Hingga akhirnya saya diberi tahu suatu fakta yang membuat otak saya “kram” sesaat. Ternyata untuk mendidik dan menanamkan sikap seperti di negara tetangga kita itu butuh waktu minimal 16 tahun, secara kontinyu dan konsisten. Dan untuk mendidik anak baca dan tulis serta berhitung tidak lebih dari 6 bulan. Orangtua di Australia, tidak pusing jika anaknya belum bisa baca tulis, karena itu akan dikuasai dalam 6 bulan ke depan, tetapi sikap disiplin dan pembentukan karakter diterapkan sedini mungkin, mereka tahu itu lebih penting dari sekedar baca tulis diusia 3 -5 tahun.
Semoga hal ini bermanfaat, dapat membawa pencerahan dan kebaikan bagi negara kita, dan tetap semangat dan majulah pendidikan karakter di Indonesia.

Sumber :  http://www.pendidikankarakter.com/menanamkan-pendidikan-karakter-bangsa-adalah-suatu-prioritas/

Proses Pembentukan Karakter Pada Anak

Karakter tidak dapat dibentuk dengan cara mudah dan murah. Dengan mengalami ujian dan penderitaan jiwa karakter dikuatkan, visi dijernihkan, dan sukses diraih ~ Helen Keller


Suatu hari seorang anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, eh ternyata di dalamnya ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong. Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki laki tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa sebabnya?
Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.

Itulah potret singkat tentang pembentukan karakter, akan terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan guru, lupa akan hal ini. Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala Good Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandulkan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan berkarakter.
Ada satu anekdot yang sering saya sampaikan pada rekan saya, ataupun peserta seminar. Enak mana makan mie instant dengan mie goreng seafood? Umumnya mereka yang suka mie pasti tahu jika mie goreng seafood jauh lebih enak dari mie goreng instant yang hanya bisa dimasak tidak kurang dari 3 menit. Apa yang membedakan enak atau tidaknya dari masakan mie tersebut? Prosesnya!

Sama halnya bagi pembentukan karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen dari orangtua dan sekolah atau guru (jika memprioritaskan hal ini) untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Butuh upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat dia bertumbuh, cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat dengan proses ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak positif, paling tidak karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda, disiplin dan memiliki integritas (ucapan dan tindakan sama) terpancar di diri kita sebagai orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan baik bagi orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan karakter.
Pada awal pembentukan karakter banyak orangtua dan guru bertanya tentang bagaimana mendisiplinkan anak. Ada 6 proses disiplin yang kami bagikan melalui ebook gratis 6 Cara Mendisiplinkan Anak, bagi anda yang belum memiliki ebook ini silahkan di download gratis disini.
Nah, apakah disiplin saja cukup? Bagaimana dengan proses membentuk karakter yang lain? Pada 06 Agustus 2012, kami akan menerbitkan buku 7 Hari Membentuk Karakter Anak. Di buku ini akan diungkap hal-hal yang sangat jarang diketahui oleh para orangtua dan guru, tentang bagaimana mendidik anak agar tumbuh bahagia dan berkarakter. Disamping itu bukan hanya anak tetapi buku ini juga memberikan pengarahan bagi orangtua dan guru agar sadar membentuk karakter mereka secara mandiri.

Kembali ke pembentukan karakter, ingat segala sesuatu butuh proses. Mau jadi jelek pun butuh proses. Anak yang nakal itu juga anak yang disiplin lho. Tidak percaya? Dia disiplin untuk bersikap nakal. Dia tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu telat, selalu konsisten untuk tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak menggunakan seragam lengkap.
Ada satu kunci untuk menanamkan kebiasaan, ada hukumnya dan hukum itu bernama hukum 21 hari, dalam pembentukan karakter erat kaitannya dengan menciptakan kebiasaan yang baru yang positif. Dan kebiasaan akan tertanam kuat dalam pikiran manusia setelah diulang setiap hari selama 21 hari. Misalnya Anda biasakan anak sehabis bangun tidur untuk membersihkan tempat tidurnya, mungkin Anda akan selalu mengingatkan dan mengawasi dengan kasih sayang (wajib, dengan kasih sayang) selama 21 hari. Tetapi setelah lewat 21 hari maka kebiasaan itu akan terbentuk dengan otomatis. Nah, kini kebiasaan positif apa yang hendak anda tanamkan kepada anak, pasangan dan diri Anda? Anda sudah tahu caranya dan tinggal melakukan saja. Sukses dalam karakter yang terus diperbarui.


Sumber : http://www.pendidikankarakter.com/proses-pembentukan-karakter-pada-anak/

Peran Pendidikan Karakter Dalam Melengkapi Kepribadian

Pada awalnya, manusia itu lahir hanya membawa “personality” atau kepribadian. Secara umum kepribadian manusia ada 4 macam dan ada banyak sekali teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna, tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Phlegmatis :  tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.
Di atas ini adalah teori yang klasik dan sekarang teori ini banyak sekali berkembang, dan masih banyak digunakan sebagai alat tes sampai pengukuran potensi manusia.

Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda. Nah dari ke 4 kepribadian tersebut, masing-masing kepribadian tersebut memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Misalnya tipe koleris identik dengan orang yang berbicara “kasar” dan terkadang tidak peduli, sanguin pribadi yang sering susah diajak untuk serius, phlegmatis sering kali susah diajak melangkah yang pasti dan terkesan pasif, melankolis terjebak dengan dilemma pribadi “iya” dimulut dan “tidak” dihati, serta cenderung perfectionis dalam detil kehidupan serta inilah yang terkadang membuat orang lain cukup kerepotan.
Tiap manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah hadiah dari Tuhan sang pencipta saat manusia dilahirkan. Dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di aspek kehidupan social dan masing-masing pribadi.  Mudah ya, penjelasan ini.
Nah, karakter nya dimana? Saat tiap manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya dan memperbaiki kelemahannya dan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka inilah yang disebut dengan karakter. Misalnya, seorang koleris murni tetapi sangat santun dalam menyampaikan pendapat dan instruksi kepada sesamanya, seorang yang sanguin mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus. Itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya).

Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus DIBANGUN dan DIKEMBANGKAN secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu PROSES yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.
Banyak saya perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter Anda tidaklah demikian. Karakter Anda selalu merupakan hasil pilihan Anda.
Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.
Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda memiliki KONTROL PENUH atas karakter Anda, artinya Anda tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah TANGGUNG JAWAB pribadi Anda.

sumber: http://www.pendidikankarakter.com/peran-pendidikan-karakter-dalam-melengkapi-kepribadian/